Bagelen Lestarikan Budaya Jawa Di Provinsi Lampung

Bagelen Lestarikan Budaya Jawa Di Provinsi Lampung
Kepala Desa Bagelen Me

LAMPUNG - Acara Pagelaran Wayang Kulit dengan tema “Onto Seno Munggah Ratu” Dalam Rangka Memperingati Hari Jadi Desa Bagelen Ke-115 Tahun 2020 (Kamis, 17 September 2020)Di Halaman Kantor Desa Bagelen Kecamatan Gedong Tataan Kabuparen Pesawaran yang di juluki Bumi Andan Jejama. 

Pagelaran seni wayang kulit ini digelar dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Desa Bagelen Ke-115 Tahun 2020 dan sebagai bentuk pelestarian seni dan budaya loka yangl harus tetap kita jaga keberadaannya di era modernisasi saat ini. 

Gotong royong dilakukan setiap hari minggu tiap satu bulan sekali, sesuai dengan arti kata Bumi Andan Jejama(lebih mudah bekerja kalau bergotong royong). 

Bagelen (bahasa Jawa: ꦧꦒꦼꦭꦺꦤ꧀, translit. Bagelen) adalah salah satu desa yang berada di wilayah kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, Indonesia. V Bagelen merupakan suatu desa yang terbentuk dari adanya program pemerintah terkait dengan transmigrasi. 

Mayoritas penduduk di Bagelen adalah masyarakat suku Jawa. Kehidupan masyarakat di Bagelen mengalami perubahan dari waktu ke waktu, sehingga mempengaruhi perkembangan daerahnya. 

Perkembangan di daerah ditunjukan dari kemajuan-kemajuan yang telah dicapai dan tentunya dapat diukur dengan ukuran kemajuan di bidang ekonomi, pendidikan, sosial, bahkan budaya masyarakatnya.

Desa Bagelen terbentuk tahun 1905 oleh 155 Keluarga. Penduduk desa Bagelen tahun 1998-2006 berjumlah ± 6678 yang terdiri dari 1552 KK, dan pada tahun 2007-2009 berjumlah 7319 jiwa yang terdiri dari 1856 (sumber rekapitulasi hasil pendataan keluarga tingkat desa tahun 2008/2019, BPS Kabupaten Lampung Selatan tahun 1998-2001 dan monografi desa Bagelen tahun 2002-2009). 

Bagelen merupakan desa kolonisasi pertama di Indonesia, mayoritas penduduknya masih bermata pencaharian di bidang pertanian (sawah dan ladang) sama seperti ketika mereka pertamakali datang ke Bagelen.

Sistem pertanian persawahan dan perladangan membuat masyarakatnya hidup menetap, kehidupan masyarakat yang menetap membentuk aturan-aturan yang tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan yang berlaku dalam suatu masyarakat. 

Mengingat bahwa daerah Bagelen merupakan daerah yang berawal dari pemindahan penduduk dari Jawa ke Lampung, mayoritas penduduknya adalah suku Jawa ± 90 %. Suku Jawa yang datang ke Bagelen membawa tradisi-tradisi asalnya antara lain seperti upacara tingkeban, upacara kelahiran, upacara perkawinan, upacara kematian, dan upacara bersih desa. 

Khusus upacara bersih desa dilaksanakan pada bulan Syuro, hal ini dilakukan untuk menjaga desa supaya tetap bersih dari pengaruh-pengaruh buruk yang ada.

Selain suku Jawa ada juga beberapa suku lain sehingga terjadi proses interaksi sosial antara penduduk yang memiliki latar belakang budaya berbeda. Dengan terjadinya proses interaksi yang terus menerus ahirnya melahirkan peraturan-peraturan baik tertulis maupun tidak tertulis yang disepakati secara bersama-sama baik di desa Bagelen maupun di luar Bagelen. 

Peraturan-peraturan tersebut membawa pengaruh-pengaruh positif bagi perkembangan kehidupan bermasyarakat serta perkembangan daerah Bagelen sendiri. Dengan demikian interaksi sosial yang terjadi melahirkan perubahan pada pola-pola kehidupan masyarakat, yang mengarah pada keadaan yang lebih baik.

Perkembangan bidang sosial budaya masyarakat di desa Bagelen mengalami perkembangan positif, dapat dilihat dari semakin baiknya hubungan masyarakat bagelen dengan masyarakat disekitarnya, kehidupan harmonis muncul dengan adanya aturan￾aturan baik tertulis maupun tidak tertulis yang hidup di masyarakat. Budaya masyarakat dipertahankan sebagai bentuk identitas tetapi tetap menjaga keharmonisan budaya lokal yang ada.(Agung)